Antara Ketidak Adilan dan Egosentris
Seperti melodi indah yang melnakan jiwa. namun terkadang, nada-nada itu bisa berubah sumbang karena gemuruh gejolak perasaan, rasa bahagia bercumbu nestapa, manisnya asmara tertelan kekecewaan. mungkin begitu, dilema antara rasa ketidak adilan dan egosentris dalam bingkai rasa. Rasa ketidak adilan sudah seperti hujaman belati di ulu hati Menyabet egoku, menyembur pula amarah membara. "Mengapa aku tidak dicintai sebagaimana mencintaimu?" begitu raung sang hati. Namun jika amarah itu berlarut dan bermetamorfosa menjadi egosentrisme picik, maka rasa sejati tak lagi bersemayam di sana. Egosentrisme dalam sebuah rasa sudah seperti virus yang menggerogoti gairah kama. Dengan angkuh ia menuntut belahan jiwa untuk tunduk patuh pada sangkauan ego. Obsesi memiliki dan menguasai menjadi dorongan utama. Di mata sang ego, rasa tak lebih dari arena berebut dominasi.